Sinergi Kemanusiaan di RSUD I Lagaligo: Peringati Hari TB Sedunia dan HUT PPNI ke-52 Lewat Edukasi Masif
Senin, 16 Maret 2026, Jam 10.30 WITA
Oleh : Indra Gunawan Editor : Adi Barapi
LUWU TIMUR, HnmIndonesia.com – Suasana ruang tunggu Poliklinik RSUD I Lagaligo tampak berbeda dari biasanya pada Senin pagi (16/03/2026). Jika biasanya hanya diisi oleh antrean pasien yang menanti panggilan medis, kali ini riuh rendah diskusi positif memenuhi ruangan. Dalam semangat kolaborasi kemanusiaan, Unit Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) bersama Dewan Pengurus Komisariat (DPK) PPNI RSUD I Lagaligo menggelar penyuluhan kesehatan eksklusif bertajuk “Mengenal Tuberkulosis Paru Lebih Dekat.”
Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas medis, melainkan sebuah aksi nyata dalam memperingati dua momentum besar: Hari Tuberkulosis Sedunia yang jatuh setiap 24 Maret dan Hari Ulang Tahun Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) ke-52.
Edukasi Sebagai Senjata Utama Melawan Stigma
Tuberkulosis (TBC) masih menjadi momok kesehatan global, tidak terkecuali di Indonesia. Kurangnya pemahaman masyarakat sering kali melahirkan stigma negatif terhadap penderita, yang justru menghambat proses penyembuhan dan pemutusan rantai penularan. Menyadari hal tersebut, RSUD I Lagaligo menghadirkan dr. Mungky Kusuma Wardani sebagai narasumber utama untuk mengupas tuntas mitos dan fakta seputar TBC.
Dalam pemaparannya yang lugas, dr. Mungky menegaskan bahwa TBC bukanlah penyakit kutukan atau keturunan, melainkan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
“Kita harus mengubah paradigma masyarakat. TBC bisa menyerang siapa saja, namun yang paling penting adalah TBC bisa disembuhkan total jika dideteksi dini dan diobati dengan tuntas,” tegas dr. Mungky di hadapan puluhan pengunjung.
Bukan Sekadar Penyakit Paru
Satu poin penting yang ditekankan dalam penyuluhan ini adalah fleksibilitas serangan bakteri TBC. Meski paru-paru menjadi target utama, dr. Mungky menjelaskan bahwa bakteri ini bersifat oportunistik dan dapat bermigrasi ke organ tubuh lain melalui aliran darah atau sistem limfatik.
“TBC utamanya menyerang paru, tetapi tidak menutup kemungkinan juga dapat menyerang organ tubuh lain seperti tulang, kelenjar getah bening, dan usus. Inilah mengapa kesadaran akan gejala awal sangat krusial,” jelasnya.
Beberapa gejala yang patut diwaspadai antara lain:
- Batuk berdahak yang berlangsung selama 2 minggu atau lebih.
- Demam meriang yang berkepanjangan.
- Nyeri dada dan sesak napas.
- Penurunan berat badan secara drastis tanpa sebab jelas.
- Keluarnya keringat dingin pada malam hari meski tanpa aktivitas fisik.
Mekanisme Penularan dan Pentingnya Imunitas
Dalam sesi yang interaktif, dr. Mungky juga membedah bagaimana TBC menyebar. Penularan terjadi melalui udara (airborne) lewat percikan dahak (droplet) saat penderita batuk, bersin, atau sekadar berbicara. Namun, ia juga memberikan secercah harapan mengenai sistem pertahanan tubuh manusia.
“Tidak semua orang yang menghirup bakteri TBC akan langsung sakit. Di sinilah peran vital daya tahan tubuh. Jika imun kita kuat, bakteri bisa tertidur (laten) atau bahkan mati. Namun, bagi mereka dengan imun lemah, bakteri ini akan aktif dan merusak jaringan tubuh,” tambahnya.
Hal ini menjadi pengingat bagi pengunjung untuk selalu menjaga pola hidup bersih dan sehat (PHBS), mengonsumsi makanan bergizi, dan memastikan sirkulasi udara di rumah berjalan dengan baik agar sinar matahari dapat masuk, karena bakteri TBC sangat rentan terhadap sinar ultraviolet.
HUT PPNI ke-52: Bakti Perawat untuk Negeri
Penyelenggaraan kegiatan ini juga menjadi kado spesial bagi PPNI yang merayakan hari jadinya yang ke-52. Keterlibatan aktif para perawat RSUD I Lagaligo dalam penyuluhan ini menunjukkan bahwa peran perawat tidak hanya terbatas pada tindakan medis di bangsal, tetapi juga sebagai edukator dan garda terdepan dalam pencegahan penyakit di masyarakat.
Ketua DPK PPNI RSUD I Lagaligo menyampaikan bahwa melalui momen HUT ke-52 ini, perawat ingin semakin dekat dengan masyarakat. Edukasi langsung seperti ini dianggap lebih efektif dalam menyentuh sisi humanis pasien dan keluarga, sehingga pesan kesehatan dapat tersampaikan dengan lebih hangat.
Antusiasme dan Harapan Baru
Respons pengunjung sangat luar biasa. Sesi tanya jawab dipenuhi oleh pertanyaan kritis dari keluarga pasien, mulai dari cara membedakan batuk biasa dengan TBC, hingga bagaimana prosedur pemeriksaan gratis yang disediakan oleh pemerintah melalui rumah sakit.
Salah satu pengunjung, yang enggan disebutkan namanya, mengaku sangat terbantu dengan kegiatan ini. “Dulu saya takut kalau dengar kata TBC, rasanya seperti penyakit yang sangat menakutkan. Tapi setelah mendengar penjelasan dokter, saya jadi paham kalau yang penting itu disiplin minum obat dan jaga kebersihan,” ungkapnya.
Sebagai bentuk apresiasi atas antusiasme peserta, panitia membagikan berbagai souvenir menarik. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol kebersamaan antara tenaga medis dan masyarakat dalam memerangi TBC di Kabupaten Luwu Timur.
Kesimpulan: Menuju Indonesia Bebas TBC
Kegiatan di RSUD I Lagaligo ini merupakan bagian dari gerakan global untuk mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030. Dengan kolaborasi antara unit PKRS dan organisasi profesi seperti PPNI, diharapkan angka deteksi dini di Luwu Timur meningkat dan stigma terhadap pasien TBC dapat dikikis habis.
Mari kita jadikan peringatan Hari TB Sedunia dan HUT PPNI ini sebagai momentum untuk saling peduli. Karena sejatinya, kesehatan adalah tanggung jawab bersama. TBC bisa sembuh, keluarga terlindungi, dan Indonesia pun sehat.


Tinggalkan Balasan