Komplain ke JNT, Warga di Malili Marah, Pesanan tak Diantar Hingga Sebulan
Senin 13 April 2026, 06:57 WITA
Redaksi
MALILI, hnmindonesia.com — Ratusan warga di Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, mendatangi kantor jasa pengiriman J&T Express pada Minggu (12/4/2026). Kedatangan warga ini dipicu oleh keterlambatan pengantaran paket yang dinilai sudah sangat merugikan, bahkan ada yang mengaku barang pesanannya tidak kunjung tiba hingga satu bulan lamanya.
Warga yang didominasi oleh ibu rumah tangga itu tampak memadati kantor JNT sejak pagi hari. Mereka rela mengantre hingga berjam-jam hanya untuk mengambil paket secara langsung, meskipun sebelumnya telah membayar ongkos kirim agar barang diantar ke alamat masing-masing. Situasi ini memicu kekecewaan mendalam karena layanan yang diterima tidak sesuai dengan yang dijanjikan.
“Barang pesanan saya sejak bulan Ramadan kemarin, hingga saat ini belum diantarkan juga. Terpaksa kami jemput langsung ke kantor JNT,” ujar salah seorang warga dengan nada kesal.
Tidak hanya keterlambatan, sejumlah warga juga mengeluhkan paket mereka yang secara tiba-tiba berstatus retur atau dikembalikan ke penjual tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu kepada konsumen. Hal ini membuat warga merasa dirugikan, baik dari segi waktu maupun biaya yang telah dikeluarkan.
“Kami jelas dirugikan, ini bukan lagi COD kalau paket kami yang jemput, sementara kami bayar biayanya tiba di alamat tujuan,” timpal warga lainnya.
Aksi warga ini pun menjadi bentuk protes atas buruknya pelayanan yang mereka rasakan. Mereka berharap pihak perusahaan dapat segera melakukan perbaikan sistem distribusi dan meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan.
Fenomena keterlambatan pengiriman seperti yang terjadi di Malili bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Di sejumlah daerah lain di Indonesia, keluhan serupa juga kerap terjadi, terutama saat momen lonjakan belanja online seperti bulan Ramadan dan menjelang Hari Raya Idulfitri. Di kota-kota besar seperti Makassar dan Surabaya, konsumen juga sempat mengeluhkan paket yang tertahan berhari-hari bahkan berminggu-minggu di gudang sortir.
Bahkan di Jakarta, beberapa pelanggan mengaku mengalami status pengiriman yang tidak berubah dalam waktu lama, hingga akhirnya paket dikembalikan ke penjual tanpa konfirmasi. Kondisi ini menimbulkan keresahan karena konsumen merasa tidak mendapatkan kepastian atas barang yang telah dibeli.
Pengamat di sektor logistik menilai, permasalahan ini umumnya terjadi akibat lonjakan volume pengiriman yang tidak diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia. Selain itu, distribusi yang tidak merata serta kendala operasional di lapangan juga menjadi faktor yang memperparah keterlambatan.
Melihat kondisi tersebut, warga Malili mendesak agar platform e-commerce yang bekerja sama dengan JNT dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja mitra logistiknya. Mereka juga berharap adanya transparansi informasi terkait status pengiriman agar konsumen tidak merasa dirugikan.
Jika persoalan ini tidak segera ditangani dengan serius, dikhawatirkan akan berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan belanja online. Warga pun meminta agar kejadian serupa tidak kembali terulang, terutama di daerah yang sangat bergantung pada jasa pengiriman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari


Tinggalkan Balasan