El Nino Mengintai, Lutim Gaspol Antisipasi: Tanam Dipercepat, BPBD Aktifkan Siaga 24 Jam
Rabu 15 April 2026, 13:55 WITA
Oleh: Indra Gunawan, Editor: Haerul Nasir
LUWU TIMIR, hnmindonesia.com, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur tak ingin kecolongan menghadapi potensi dampak fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada Juli hingga Agustus 2026. Sejumlah langkah taktis langsung digerakkan, mulai dari percepatan masa tanam hingga penguatan kesiapsiagaan kebencanaan.
Dinas Pertanian Luwu Timur mendorong petani untuk segera memulai masa tanam lebih awal. Strategi ini dinilai penting agar siklus pertumbuhan tanaman tidak berbenturan dengan puncak musim kering yang berisiko menurunkan produktivitas.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Rahmatullah, menyebut langkah ini sebagai upaya realistis untuk menjaga hasil panen tetap stabil di tengah ancaman iklim.
“Kita dorong percepatan tanam supaya fase penting tanaman tidak jatuh di periode kekeringan. Ini langkah antisipasi agar produksi tetap terjaga,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Fokus intervensi juga diarahkan ke wilayah yang masih bergantung pada curah hujan, seperti Alam Buana, Angkona, Pongkeru, dan Wasuponda. Di daerah tersebut, pemerintah menyiapkan dukungan berupa pompanisasi, distribusi pupuk, hingga penguatan teknis budidaya.
Kepala Dinas Pertanian Luwu Timur, Subhan, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk kesiapan daerah dalam menjaga ketahanan pangan.
“Kita harus bergerak sebelum dampaknya terasa. Jangan menunggu krisis datang baru bertindak. Ini soal menjaga produksi dan melindungi petani,” tegasnya.
Sejalan dengan itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Luwu Timur juga meningkatkan status kewaspadaan. Posko Crisis Center diaktifkan penuh dengan layanan darurat yang dapat diakses selama 24 jam.
Kepala Pelaksana BPBD Luwu Timur, dr. April, mengatakan pihaknya telah menyiapkan tim gabungan untuk merespons cepat potensi bencana, termasuk kebakaran hutan dan lahan akibat musim kering.
“Crisis Center sudah aktif dengan layanan 24 jam. Petugas siaga penuh untuk merespons kondisi darurat, termasuk potensi karhutla saat musim kering,” ungkapnya.
Menurutnya, koordinasi lintas sektor terus diperkuat, termasuk dengan BMKG dalam memantau perkembangan iklim. BPBD juga telah mengikuti rapat koordinasi nasional terkait antisipasi kekeringan tahun 2026.
Selain itu, pemetaan wilayah rawan terus dilakukan dengan melibatkan KPHL dan Manggala Agni. Meski demikian, hingga saat ini belum ada indikasi wilayah di Luwu Timur yang diprediksi mengalami kekeringan ekstrem.
“Kita tetap siaga dan terus memantau perkembangan informasi terbaru. Semua potensi kita antisipasi sejak awal,” tambah dr. April.
Berdasarkan prediksi Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan BMKG, dampak El Nino mulai terasa pada Juli dan diperkirakan mencapai puncak pada Agustus 2026.
Dengan langkah terpadu ini, Luwu Timur berupaya menjaga sektor pertanian tetap produktif sekaligus meminimalkan risiko bencana di tengah ancaman perubahan iklim global.


Tinggalkan Balasan