Cendana Hijau Bersolek! Aksi “Jumat Bersih Juara” Jadi Simbol Kebangkitan Gotong Royong di Luwu Timur
Jumat, 13 Maret 2026, Jam : 11.32 WITA
Oleh : Indra Gunawan Editor : Adi Barapi
LUWU TIMUR, HnmIndonesia.com – Pagi yang cerah di Desa Cendana Hijau, Jumat (13/03/2026), tidak dilewatkan begitu saja dengan rutinitas biasa. Sejak pukul 07.00 WITA, deru sapu lidi yang beradu dengan aspal dan denting cangkul yang membersihkan drainase mulai terdengar bersahutan. Pemerintah Desa (Pemdes) Cendana Hijau secara resmi menggerakkan aksi bertajuk “Jumat Bersih Juara”, sebuah gerakan masif yang menyatukan seluruh elemen masyarakat dalam satu visi: menciptakan lingkungan desa yang asri, sehat, dan nyaman.
Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial mingguan. Di bawah komando Kepala Desa Cendana Hijau, gerakan ini merupakan manifestasi dari semangat Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge yang diwujudkan dalam bentuk kerja nyata menjaga ruang publik.
Sinergi Tanpa Sekat: Dari Aparat Hingga Rakyat
Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Tidak hanya perangkat desa yang turun tangan, namun juga melibatkan tokoh masyarakat, pemuda, hingga ibu-ibu rumah tangga. Mereka bahu-mamba membersihkan area jalan utama desa, memangkas rumput liar yang mulai meninggi, hingga memastikan saluran drainase bebas dari sumbatan sampah plastik.
Kepala Desa Cendana Hijau menegaskan bahwa pelibatan seluruh unsur masyarakat adalah kunci keberhasilan program ini. “Kami ingin menghapus sekat antara pemerintah dan warga. Di sini, tidak ada bos atau bawahan, yang ada adalah warga Cendana Hijau yang mencintai tanah kelahirannya. Dengan turun langsung, kita memberikan contoh bahwa kebersihan adalah tanggung jawab kolektif,” ujarnya di sela-sela kegiatan.
Drainase Jadi Prioritas Utama
Mengingat kondisi cuaca yang kerap tidak menentu di wilayah Luwu Timur, fokus utama pada Jumat Bersih kali ini adalah normalisasi saluran drainase. Parit-parit yang tersumbat sedimen tanah dan sampah dibersihkan secara total. Hal ini dilakukan sebagai langkah preventif untuk mencegah terjadinya genangan air yang dapat menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD).
”Lingkungan yang bersih adalah investasi kesehatan jangka panjang. Jika drainase kita lancar, risiko banjir kecil dan bibit penyakit tidak punya ruang untuk berkembang. Kita ingin warga Cendana Hijau hidup sehat tanpa was-was,” tambah Sang Kades.
Menghidupkan Kembali Marwah Gotong Royong
Di era digital yang serba individualis, Desa Cendana Hijau mencoba melawan arus dengan menghidupkan kembali budaya gotong royong. Istilah “Juara” dalam tajuk kegiatan ini bukan sekadar singkatan, melainkan doa dan target agar desa ini menjadi juara dalam hal kebersihan dan kekompakan di tingkat kabupaten.
Aksi ini juga menjadi ajang “curhat” sehat antara warga dan aparat desa. Sambil mencangkul dan membersihkan sampah, warga bisa berinteraksi langsung dengan pemerintah desa, menyampaikan aspirasi, atau sekadar bercengkerama ringan. Inilah yang disebut sebagai sarana memperkuat silaturahmi yang paling efektif—bekerja bersama untuk tujuan mulia.
”Budaya gotong royong adalah warisan leluhur yang mulai memudar di banyak tempat. Melalui Jumat Bersih Juara, kami ingin memastikan warisan ini tetap tegak berdiri di Cendana Hijau,” tegas perwakilan perangkat desa.
Transformasi Wajah Desa: Bersih Itu Indah, Bersih Itu Nyaman
Dampak dari kegiatan ini langsung terlihat seketika. Jalan desa yang sebelumnya tampak kusam karena tumpukan tanah dan sampah kini terlihat lebih lapang dan bersih. Lingkungan sekitar pemukiman warga pun tampak lebih segar, memberikan kesan estetika yang memanjakan mata bagi siapa saja yang melintas.
Pemerintah Desa Cendana Hijau menyadari bahwa kebersihan lingkungan berkorelasi langsung dengan indeks kebahagiaan warga. Desa yang bersih cenderung menciptakan suasana psikologis yang lebih tenang dan produktif bagi penghuninya.
Rencana Berkelanjutan: Bukan Sekali Jalan
Pemdes Cendana Hijau memastikan bahwa “Jumat Bersih Juara” akan menjadi agenda rutin yang terstruktur. Ke depannya, direncanakan akan ada sistem evaluasi atau pemberian penghargaan bagi lingkungan rukun tetangga (RT) yang paling konsisten menjaga kebersihan wilayahnya.
Harapannya, budaya bersih ini tidak hanya muncul saat ada komando dari desa, tetapi tumbuh menjadi kesadaran organik di setiap sanubari warga. Menjadikan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dan merawat tanaman di depan rumah sebagai gaya hidup (lifestyle).
Pesan untuk Generasi Muda
Salah satu pemandangan menarik dalam kegiatan ini adalah kehadiran beberapa pemuda desa yang turut aktif. Keterlibatan generasi milenial dan Gen Z sangat diharapkan agar estafet kepedulian lingkungan tidak terputus.
”Kami ingin pemuda desa melihat bahwa membangun desa tidak selalu tentang teknologi, tapi juga tentang bagaimana kita merawat bumi yang kita pijak. Jika anak muda sudah peduli kebersihan, maka masa depan Cendana Hijau akan tetap hijau dan lestari sesuai namanya,” pungkas Kepala Desa.


Tinggalkan Balasan