HNM INDONESIA

Berita Dalam Genggaman

Sulsel Menuju Smart Province: Gandeng ITB Perkuat Data Geospasial untuk Pembangunan Presisi

admin - 323 Dilihat

Jumat, 10 April 2026, Jam 10.00 WITA

Editor : Adi Baraphy

 

MAKASSAR,HnmIndonesia.com– Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) menunjukkan keseriusannya dalam mewujudkan pembangunan berbasis data. Melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda), Pemprov Sulsel resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Pusat Infrastruktur Data Spasial Institut Teknologi Bandung (PIDS-ITB).

​Langkah ini diwujudkan melalui workshop bertajuk “Transforming Spatial Data into Smarter Development Decisions” yang digelar di Kantor Gubernur Sulsel, 8–9 April 2026. Fokus utamanya? Mengoptimalkan data geospasial sebagai fondasi pengambilan keputusan yang lebih akurat, terintegrasi, dan berkelanjutan.

​Plt. Kepala Bappelitbangda Sulsel, Irawan Dermayasamin, menegaskan bahwa teknologi geospasial dan Artificial Intelligence (Geo-AI) bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak.

​”Pendekatan geospasial sangat diperlukan untuk memetakan keterkaitan penggunaan lahan dengan risiko bencana, serta menyusun strategi mitigasi yang terintegrasi,” ujar Irawan.

​Ia menambahkan bahwa penggunaan data yang presisi akan berdampak langsung pada sektor-sektor vital, seperti:

  • Pertanian: Optimasi lahan dan produktivitas.
  • Penataan Ruang: Penyusunan RDTR yang lebih tertib.
  • Mitigasi Bencana: Penanganan wilayah rawan banjir dan perubahan tutupan lahan.
  • Smart City: Pengembangan kota yang lebih modern dan efisien.

​Sejalan dengan kebijakan nasional, Sulawesi Selatan kini mulai memanfaatkan data geospasial skala 1:5.000. Kepala PIDS-ITB, Dr. Budhy Soeksmantono, menjelaskan prinsip efisiensi yang diusung dalam kerja sama ini, yaitu “data diambil sekali, digunakan berkali-kali.”

​Namun, Budhy mengingatkan bahwa teknologi saja tidak cukup. Ada empat pilar utama agar pemanfaatan data geospasial berjalan maksimal: Data, Platform, Sumber Daya Manusia (SDM), dan Regulasi.

​”Data geospasial adalah invisible layer (lapisan tak terlihat) yang memiliki kontribusi besar dalam setiap keputusan strategis,” tegas Budhy.

​Tak hanya akademisi dalam negeri, workshop ini juga menghadirkan perspektif global dari SuperMap GIS (Beijing, China). Evelyn Sun selaku GM of Regional Center mengungkapkan bahwa integrasi Big Data dan teknologi 3D dapat memberikan solusi nyata bagi manajemen bencana, belajar dari praktik terbaik di China, Malaysia, dan Jepang.

​Dengan memperkuat ekosistem geospasial ini, Pemprov Sulsel optimistis dapat menjawab tantangan kewilayahan—seperti berkurangnya daerah resapan air dan meningkatnya risiko banjir—melalui perencanaan yang cerdas dan terukur.

​Penutupan kegiatan oleh Kabid Infrastruktur dan Kewilayahan, Ishak Amin Rusly, menandai komitmen Sulsel untuk terus membuka ruang kolaborasi teknologi demi kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini