HNM INDONESIA

Berita Dalam Genggaman

Asah Taji Legislator: Upaya DPRD Luwu Membedah Transparansi di Tengah Ketatnya Fiskal Daerah

admin - 63 Dilihat

Minggu, 12 April 2026, Jam: 12.30 WITA

Editor : Adi Baraphy

 

Makassar, HnmIndonesia.com-Keseriusan DPRD Luwu dalam meningkatkan kualitas anggotanya terlihat dari daftar narasumber yang dihadirkan.Bertempat di Ballroom Hotel Aryaduta, Makassar, pada Minggu (12/4/2026),

Dalam agenda resmi Pemkab Luwu , Muhammad Rudi, hadir membacakan sambutan tertulis Bupati Luwu, Patahudding. Dalam pesan tersebut, Bupati menekankan bahwa sinergi antara eksekutif dan legislatif hanya akan berjalan efektif jika dibarengi dengan integritas tinggi.

Tidak tanggung-tanggung, LP2M UIM Al-Ghazali menggandeng para pakar dan praktisi dari lembaga-lembaga bergengsi:

  1. BPK RI Perwakilan Sulawesi Selatan: Membedah teknis audit dan kepatuhan anggaran agar terhindar dari temuan administratif maupun hukum.

  2. KPK RI: Memberikan edukasi preventif mengenai potensi tindak pidana korupsi dalam proses penyusunan anggaran.

  3. BPSDM Provinsi Sulawesi Selatan: Mengulas regulasi terbaru mengenai pengembangan kapasitas aparatur dan wakil rakyat.

  4. Praktisi Komunikasi Publik: Melatih para legislator agar mampu menyampaikan hasil kerja mereka kepada masyarakat secara efektif dan terbuka.

Ketua LP2M UIM Al-Ghazali, Suardi Bakri, menegaskan bahwa legitimasi kegiatan ini sangat kuat karena telah mengantongi rekomendasi dari BPSDM Provinsi Sulawesi Selatan. “Kami ingin memastikan bahwa ilmu yang didapatkan di sini bersifat aplikatif. Bukan sekadar teori, tapi panduan taktis bagi anggota dewan dalam menjalankan fungsinya sehari-hari,” jelasnya.

Apa arti Bimtek ini bagi warga Luwu yang berada jauh dari hiruk-pikuk Makassar? Jawabannya sederhana: Kepastian Pelayanan. Ketika anggota DPRD memahami cara membedah anggaran secara akuntabel, maka proyek-proyek infrastruktur, layanan kesehatan, dan bantuan pendidikan akan terawasi dengan lebih baik.

Harapannya, pasca-kegiatan ini, tidak ada lagi kebijakan yang “lahir prematur” atau anggaran yang terbuang sia-sia. Dengan bekal pengetahuan dari narasumber kelas wahid, DPRD Luwu diharapkan mampu menjadi mitra kritis bagi pemerintah daerah, bukan sekadar pemberi stempel persetujuan.

Kegiatan ini ditutup dengan semangat kolaborasi. Bahwa di balik megahnya Hotel Aryaduta, ada komitmen yang dibawa pulang ke Bumi Sawerigading—sebuah janji untuk memerintah dengan kaca yang bening (transparan) dan tangan yang bersih (akuntabel).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini