Teror Larut Malam di Burau: Aksi Heroik Regu 3 Damkar Evakuasi Dua ‘Raksasa’ Melata
Minggu, 15 Maret 2026 Jam : 09.20
Oleh : Indra Gunawan Editor : Adi Barapi
LUWU TIMUR,HnmIndonesia.com – Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat bagi warga Kecamatan Burau, Kabupaten Luwu Timur, berubah menjadi ketegangan mencekam pada Sabtu dini hari (14/03/2026). Di saat sebagian besar penduduk terlelap, Tim Pemadam Kebakaran (Damkar) Posko Burau justru harus berjibaku dengan maut. Bukan melawan amukan si jago merah, melainkan menghadapi ancaman senyap dari predator berdarah dingin: Ular Piton.
Dalam kurun waktu kurang dari empat jam, Regu 3 Damkar Burau dipaksa bekerja ekstra keras mengeksekusi dua operasi evakuasi satwa liar di dua titik berbeda. Kecepatan dan ketepatan bertindak menjadi kunci utama dalam memastikan tidak ada nyawa—baik manusia maupun hewan tersebut—yang melayang.
Babak Pertama: Ketegangan di Dusun Jalajja
Keheningan malam di Dusun Jalajja pecah ketika jarum jam menunjukkan pukul 00.36 WITA. Seorang warga bernama Suardi dikejutkan oleh pergerakan mencurigakan di sekitar area permukimannya. Bayangan panjang yang meliuk di balik kegelapan ternyata adalah seekor ular sawah (Piton) berukuran cukup besar yang tengah mencari mangsa atau sekadar melintas masuk ke zona padat penduduk.
Sadar akan bahaya yang mengintai keluarganya dan tetangga sekitar, Suardi segera menghubungi nomor darurat Posko Damkar Burau. Respons yang diberikan petugas tergolong luar biasa. Hanya berselang satu menit setelah laporan diterima, yakni pukul 00.37 WITA, armada Regu 3 langsung menderu menuju lokasi.
Tiba di tempat kejadian perkara (TKP) pada pukul 00.45 WITA, petugas mendapati ular tersebut berada di posisi yang sulit dijangkau. Dengan bermodalkan alat penjepit ular (snake pole) dan keahlian khusus, tim mulai melakukan pengepungan.
”Kami harus tetap tenang karena pergerakan ular piton di malam hari sangat sulit diprediksi. Fokus utama kami adalah mengamankan kepala ular tanpa melukainya, sekaligus memastikan personel tidak terkena gigitan atau lilitan,” ujar salah satu anggota regu di lapangan.
Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi para “penjinak” ini untuk menaklukkan sang predator. Pukul 00.55 WITA, operasi pertama dinyatakan selesai. Ular berhasil dimasukkan ke dalam karung pengamanan untuk kemudian dibawa menjauh dari lokasi pemukiman.
Babak Kedua: Panggilan Subuh dari Desa Lauwo
Pasca evakuasi pertama, Regu 3 sempat kembali ke posko untuk memulihkan tenaga. Namun, tugas kemanusiaan nampaknya belum ingin beristirahat. Saat fajar hampir menyingsing, tepatnya pukul 04.05 WITA, telepon darurat kembali berdering.
Kali ini, laporan datang dari Desa Lauwo. Seorang warga bernama Nurhaemang melaporkan keberadaan ular serupa yang masuk ke wilayahnya. Tanpa menunggu lama, semangat pengabdian kembali membakar anggota Regu 3. Pukul 04.08 WITA, mereka kembali memacu kendaraan operasional.
Jarak tempuh yang singkat memungkinkan tim tiba di lokasi pada pukul 04.15 WITA. Tantangan di Desa Lauwo sedikit berbeda; kondisi cahaya yang minim menjelang subuh dan posisi ular yang sempat bersembunyi di sela-sela bangunan warga membuat petugas harus lebih jeli.
Operasi kedua ini memakan waktu sekitar 20 menit. Ketelitian petugas membuahkan hasil pada pukul 04.35 WITA. Ular piton kedua berhasil diamankan. Dengan berakhirnya evakuasi di Desa Lauwo, Regu 3 sukses menyapu bersih dua ancaman besar dalam satu malam yang sama.
Dibalik Seragam: Profesionalisme dan Keberanian
Keberhasilan evakuasi ganda ini bukan sekadar keberuntungan. Dinas Pemadam Kebakaran Luwu Timur telah lama mentransformasi diri tidak hanya sebagai pemadam api, tetapi juga sebagai unit penyelamatan (rescue) serbaguna.
Fenomena masuknya ular ke permukiman warga di wilayah Burau disinyalir berkaitan dengan perubahan cuaca atau mulai terganggunya habitat alami mereka. Hal ini memaksa satwa liar keluar untuk mencari sumber makanan baru, yang sering kali justru mengarah ke kandang ternak atau rumah warga.
Kecepatan respons Regu 3 Damkar Burau yang hanya membutuhkan waktu 1-3 menit untuk berangkat setelah laporan masuk menjadi bukti nyata SOP (Standard Operating Procedure) yang berjalan dengan sangat baik. Di tengah keterbatasan personil pada jam-jam rawan, mereka membuktikan bahwa kesiapsiagaan adalah harga mati.
Edukasi dan Himbauan kepada Masyarakat
Menyikapi rentetan kejadian ini, Dinas Damkar Luwu Timur mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh lapisan masyarakat. Penanganan ular, terutama jenis piton atau ular berbisa lainnya, bukanlah perkara mudah yang bisa dilakukan secara amatir.
Beberapa poin penting yang ditekankan oleh pihak Damkar antara lain:
Jangan Panik: Jika melihat ular, tetap jaga jarak aman dan jangan melakukan gerakan provokatif yang membuat ular merasa terancam.
Pantau Pergerakan: Jika memungkinkan, pantau posisi terakhir ular dari jarak jauh agar memudahkan petugas saat tiba di lokasi.
Hindari Kontak Fisik: Jangan mencoba menangkap ular dengan tangan kosong atau peralatan seadanya jika tidak memiliki keahlian khusus.
Segera Lapor: Manfaatkan layanan darurat Damkar yang siaga 24 jam. Layanan ini tidak dipungut biaya atau gratis sebagai bentuk pelayanan publik.
”Kami hadir untuk memberikan rasa aman. Kejadian di Dusun Jalajja dan Desa Lauwo semalam adalah pengingat bahwa potensi bahaya bisa datang kapan saja. Jangan ragu menghubungi kami,” ungkap perwakilan Dinas Damkar dalam pernyataan resminya.
Apresiasi Publik
Aksi heroik Regu 3 ini pun mendapat apresiasi luas dari warga setempat. Suardi dan Nurhaemang, dua warga yang melaporkan kejadian tersebut, mengaku sangat terbantu dengan kecepatan tim Damkar.
”Saya tadinya sangat takut ular itu akan masuk ke dalam rumah. Tapi syukur, bapak-bapak dari Damkar datang sangat cepat. Mereka sangat profesional,” kata Suardi dengan nada lega.
Keberhasilan evakuasi tanpa korban jiwa maupun luka, baik dari sisi warga maupun petugas, menunjukkan tingkat kematangan taktis yang tinggi. Kini, kedua ular piton tersebut rencananya akan dilepasliarkan kembali ke habitat yang jauh dari jangkauan manusia atau diserahkan ke pihak terkait untuk penanganan lebih lanjut.
Di bawah langit Burau yang mulai terang, Regu 3 kembali ke markas. Mereka mungkin lelah, namun rasa aman yang mereka tinggalkan di rumah-rumah warga adalah upah yang tak ternilai harganya. Tugas satu malam telah usai, namun kewaspadaan tetap terjaga demi Luwu Timur yang lebih aman.


Tinggalkan Balasan