HNM INDONESIA

Berita Dalam Genggaman

Di Bawah Atap Rumbia yang Bocor, Keluarga Sugianto Menunggu Bantuan yang Tak Kunjung Datang

 

Selasa 30 Desember 2025 | 10:23 WITA

Oleh: Adi Barapi, Walenrang

 

LUWU, hnmindonesia.com,-Hujan yang turun di Desa Buntu Awo, Dusun Bosso, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu, selalu membawa kecemasan bagi keluarga Sugianto. Setiap tetes air yang merembes dari atap rumbia yang lapuk seolah mengingatkan betapa rapuhnya tempat mereka berlindung.

 

Di rumah berukuran 10 x 7 meter itu, Sugianto hidup bersama istrinya, Inna Baco, lima orang anak, serta seorang cucu yang masih berusia satu tahun. Lantai semen yang telah retak-retak menjadi saksi keseharian mereka bertahan dalam keterbatasan.

 

Saat hujan turun, air menggenangi lantai. Anak-anak harus dipindahkan ke sudut rumah yang dianggap paling aman. Malam pun kerap dilalui tanpa tidur nyenyak.

 

“Kalau hujan deras, rumah sering kebanjiran,” kata Ninis Sugianto, anak pertama pasangan tersebut.

 

Ninis kini bekerja di Sorowako bersama suaminya. Meski tak lagi tinggal serumah, pikirannya kerap tertambat di rumah orang tuanya di Desa Buntu Awo.

 

Sugianto sehari-hari bekerja sebagai buruh harian lepas di SDN Mamara. Penghasilan yang tidak menentu membuat keluarga ini kerap kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Inna Baco, sang istri, sepenuhnya mengurus rumah dan anak-anak.

 

Dari lima anak mereka, ada yang masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar, ada yang masih balita, dan ada pula yang terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi.

 

“Bukan karena tidak mau sekolah, tapi karena memang tidak mampu,” ujar Ninis lirih.

 

Saat beras di dapur habis, keluarga ini kerap berutang di warung tetangga. Mi instan atau beras menjadi penyelamat sementara, meski tidak selalu ada yang mau memberi pinjaman. Bahkan, pada waktu-waktu tertentu, anak-anak Sugianto harus menumpang makan di rumah tetangga.

 

Bantuan dari pemerintah desa pernah diterima, namun tidak rutin dan tidak berkelanjutan.

 

Lebih jauh, menurut Ninis, rumah orang tuanya telah berkali-kali didata oleh pihak terkait. Ia juga mengaku sudah sering mendampingi ibunya mengurus kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan untuk mendapatkan bantuan bedah rumah.

 

“Rumah ini sudah sering didata. Saya sama mama juga sudah bolak-balik urus berkas bedah rumah, tapi sampai sekarang belum juga ada bantuan,” ungkapnya.

 

Penantian panjang itu menyisakan kelelahan. Setiap pendataan membawa harapan, namun berakhir tanpa kepastian.

 

Hingga berita ini diturunkan, bantuan bedah rumah yang dinantikan keluarga Sugianto belum juga terealisasi.

 

Sementara itu, Kepala Desa Buntu Awo, Raswil, belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi wartawan melalui pesan singkat WhatsApp.

 

Di bawah atap rumbia yang bocor, keluarga Sugianto masih menunggu. Menunggu bantuan, menunggu kepastian, dan menunggu kehadiran negara di tengah kehidupan yang serba terbatas.(Has/)

———–

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini