HNM INDONESIA

Berita Dalam Genggaman

Tak Hanya Solar, di Luwu Timur, Gas Elpiji dan Pertalite Subsidi Juga Ditimbun

 

 

Sabtu 13 Desember 2025 | 13:33 WITA
Oleh: Indra Gunawan,  Luwu Timur

 

 

 

MALILI, hnmindonesia.com, –   Praktik penimbunan bahan bakar dan energi bersubsidi di Kabupaten Luwu Timur kembali disorot. Sorotan ini muncul pasca satu unit sepeda motor diduga milik oknum pelangsir Pertalite terbakar di area SPBU Malili, Sabtu pagi, yang sekaligus membuka tabir maraknya aktivitas ilegal penimbunan barang subsidi pemerintah di daerah tersebut.

Peristiwa terbakarnya sepeda motor itu terjadi saat aktivitas pengisian BBM masih berlangsung. Berdasarkan keterangan sejumlah saksi di lokasi, sepeda motor tersebut diduga telah dimodifikasi tangkinya untuk menampung Pertalite dalam jumlah besar. Api dengan cepat membesar sebelum akhirnya berhasil dipadamkan oleh petugas dan warga sekitar. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun kejadian tersebut mengundang perhatian publik dan memicu kekhawatiran akan keselamatan di SPBU.

Insiden ini disebut-sebut hanya puncak gunung es dari praktik penimbunan BBM subsidi yang telah lama berlangsung. Warga mengungkapkan, aktivitas pelangsiran Pertalite di SPBU Malili diduga terjadi hampir setiap hari. Puluhan sepeda motor dengan tangki modifikasi kerap terlihat mengisi BBM berulang kali, kemudian diduga menyalurkannya ke penampungan tidak resmi untuk dijual kembali.

Tak hanya Pertalite, Solar subsidi dan tabung gas elpiji 3 kilogram juga diduga ikut ditimbun. Menurut informasi yang dihimpun, Solar dan elpiji subsidi tersebut kemudian dijual kembali dengan harga jauh lebih tinggi ke Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, yang dikenal sebagai kawasan industri dengan kebutuhan energi besar.

“Sudah lama ini terjadi. Bukan cuma Pertalite, Solar dan gas elpiji 3 kilo juga sering habis di pasaran. Kami menduga itu karena ditimbun lalu dibawa keluar daerah,” ujar seorang warga Malili yang enggan disebutkan namanya.

Akibat praktik ini, masyarakat kecil menjadi pihak yang paling dirugikan. Warga mengaku kerap kesulitan mendapatkan BBM dan gas elpiji bersubsidi, bahkan harus membeli dengan harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Kondisi tersebut berdampak langsung pada biaya hidup dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Warga juga menyoroti lemahnya pengawasan dan penegakan hukum. Mereka menduga praktik ilegal ini berlangsung karena adanya pembiaran.

 

“Kami berharap aparat penegak hukum jangan tutup mata. Kejadian motor terbakar ini seharusnya jadi alarm keras. Jangan tunggu ada korban jiwa baru bertindak,” tegas warga lainnya.

Sejauh ini, belum ada keterangan resmi dari aparat penegak hukum maupun pihak terkait mengenai tindak lanjut atas peristiwa kebakaran sepeda motor tersebut maupun dugaan jaringan penimbunan BBM dan elpiji subsidi lintas daerah. Masyarakat mendesak agar dilakukan penyelidikan menyeluruh, termasuk menelusuri jalur distribusi ilegal dan pihak-pihak yang terlibat.

Peristiwa ini menjadi peringatan serius bahwa pengawasan distribusi barang subsidi pemerintah di Luwu Timur perlu diperketat. Tanpa langkah tegas, praktik penimbunan dikhawatirkan terus berulang dan semakin merugikan masyarakat luas.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini